Tampilkan postingan dengan label suara aremania. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label suara aremania. Tampilkan semua postingan

Bahasa Walikan Malang, Saksi Bisu Zaman Perjuangan

Diposting oleh Summer Coffee on Minggu, 13 Mei 2012

Ngalam City

Kodew, Kampes, Kubam, Kera-kera ngalam, ayas, kuname pothel, ojobe di gondhol nawake, dll adalah beberapa perbendaharaan kata dengan bahasa walikan khas Malang yang cukup dikenal diluar komunitas aremania. Bahasa ini ternyata mampu memmperkuat modal sosial yang ada dimasyarakat sehingga suasana khas Malangan yang guyub, saling percoyo, iso’an terus terbangun. Perkembangan lanjut bahasa ini adalah mampu menjelma menjadi sebuah identitas baru kera-kera ngalam.

Di sudut kota, tepatnya di daerah Kidul Pasar, beberapa orang bergaris wajah keras bergerombol. Mereka dari kalangan tukang parkir. Entah apa yang mereka bicarakan. Kadang dimengerti kadang tidak. Kalau diperhatikan, pembicaraan mereka sedang menghitung keuntungan parkir. Itu tampak dari beberapa perkataan mereka yang sesekali menggunakan bahasa Jawa dicampur bahasa Malangan.

"Wah nek ngene, awak kadit unyap ojir. Lha adapes2 rotom iku podho kadit rayab blas nek parkir nang kene (wah, kalau begini, aku tidak punya uang. Lha sepeda motor-sepeda motor itu kalau parkir di sini tidak ada yang bayar)," kata Sukriman, salah seorang tukang parkir itu.

Pasar burung, Splendid

Sampai saat ini bahasa walikan (dibaca dari belakang) ini popular dipergunakan oleh anak muda Malang. Menurut sejarah asal muasal bahasa walikan dimulai pada saat jaman perjuangan Gerilya Rakyat. Eksistensi bahasa walikan pada saat ibu berfungsi sebagai alat komunikasi rahasia antar sesama pejuang dan sekaligus menjadi identitas untuk mengenal kawan ataupun lawan.

Osob kiwalan kera ngalam (bahasa terbalik Arek Malang) berasal dari pemikiran para pejuang tempo doeloe yaitu kelompok Gerilya Rakyat Kota (GRK). Bahasa khusus ini dianggap perlu untuk menjamin kerahasiaan,
efektifitas komunikasi sesama pejuang selain juga sebagai pengenal identitas kawan atau lawan. Metode pengenalan ini sangat penting karena pada masa Clash II perang kemerdekaan sekitar akhir Maret 1949 Belanda banyak menyusupkan mata-mata di dalam kelompok pejuang Malang.

Mata-mata ini banyak yang mampu berkomunikasi dalam bahasa daerah dengan tujuan menyerap informasi dari kalangan pejuang GRK. penyusupan ini terutama untuk memburu sisa laskar Mayor Hamid Rusdi yang gugur pada 8 Maret 1949 dalam pertempuran dukuh Sekarputih (Desa Wonokoyo sekarang). Seorang tokoh pejuang Malang pada saat itu yaitu Pak Suyudi Raharno mempunyai gagasan untuk menciptakan bahasa baru bagi sesama pejuang sehingga dapat menjadi suatu identitas tersendiri sekaligus menjaga keamanan informasi. Bahasa tersebut haruslah lebih kaya dari kode dan sandi serta tidak terikat pada aturan tata bahasa baik itu bahasa nasional, bahasa daerah (Jawa, Madura, Arab, Cina) maupun mengikuti istilah yang umum dan baku. Bahasa campuran tersebut hanya mengenal satu cara baik pengucapan maupun penulisan yaitu secara terbalik dari belakang dibaca kedepan.

Karena keakraban dan pergaulan sehari-hari maka para pejuang dalam waktu singkat dapat fasih menguasai 'bahas' baru ini. Sedangkan lawan dan para penyusup yang tidak setiap hari bergaul dengan sendirinya akan kebingungan dan selalu ketinggalan istilah2 baru. Maka siapapun yang tidak fasih mempergunakan osob AREMA ini pasti bukan dari golongan pejuang dan pendukungnya, sehingga kehadiran para penyusup dapat diketahui dengan cepat serta rahasia komunikasi tetap terjaga.

Oskab rakab

Karena bahasa ini sangat bebas dan longgar aturannya maka kemungkinan pengembangannya sangat luas untuk itu perlu disepakati beberapa istilah penting dikalangan pejuang. Kesepakatan istilah ini diperlukan juga karena banyak kata penting sulit untuk dibaca terbalik sehingga harus dicari istilah dan padanan yang sesuai namun mudah diingat oleh para pelakunya. Contohnya kata 'Belanda' dalam bahasa Jawa disebut 'Londho' yang cukup sulit dibaca terbalik, maka dicari istilah padanannya yaitu 'Nolo'.

Demikian juga dengan 'Polisi' bukan menjadi 'Isilop' namun cukup 'Silop'. Kemudian untuk 'mata-mata' bila dibaca terbalik menjadi 'atam'. Namun untuk menentukan bahwa yang dimaksud dalam istilah tersebut adalah antek Belanda maka ditambahi kata 'keat' dari asal kata 'taek' yang dalam bahasa jawa berarti kotoran. 'Keat Atam' atau kotoran mata dalam bahasa jawa disebut 'ketek' adalah sebutan yang pas untuk para penyusup ini.

Begitu juga dengan nama peralatan perang seperti senjata genggam karena sulit menemukan istilah yang pas maka dipakai kode samaran 'Benduk' dan untuk laras panjang (dowo = panjang dalam bahasa Jawa) disebut 'benduk owod' atau disingkat 'owod' saja. Sedangkan untuk menunjuk masyarakat suku / etnik tertentu disebut 'onet' untuk golongan Cina (asal kata 'cino' dalam bahasa Jawa), 'arudam' untuk madura, 'arab' menjadi 'bara' dan seterusnya. Sedang untuk menyebut diri seseorang digunakan 'uka' = aku, 'ayas' = saya, 'umak' = kamu, 'okir' = riko (kamu dalam bahasa madura).

Sedangkan untuk menyebutkan sesuatu yang baik / bagus digunakan istilah 'nez' dari asal kata bahasa arab 'zen'. Begitu pula dalam menyebut orang tua laki-laki (ayah, Bapak) orang arab biasa menyebut dengan 'abah' atau 'sebeh' yang kemudian menjadi 'ebes'. Istilah 'ebes' kemudian menjadi populer ditujukan sebagai gelar kehormatan tidak resmi kepada para komandan, pemimpin atau pembesar dan pemuka masyarakat yang dituakan oleh segenap masyarakat Malang sampai sekarang.

Suyudi Raharno pada September 1949 gugur disergap Belanda di suatu pagi buta dipinggiran wilayah dukuh Genukwatu (Purwantoro sekarang) walaupun keadaan pada saat itu sedang gencatan senjata. Seminggu sebelumnya salah seorang kawan akrabnya yang turut mencetuskan 'osob kera ngalam' yaitu Wasito juga gugur dalam pertempuran di Gandongan (Pandanwangi) sekarang. Saat ini keduanya telah disemayamkan di Taman Makam Pahlawan Suropati - Jalan Veteran Malang.

Penggunaan bahasa walikan (osob kiwalan) kera ngalam (bahasa terbalik anak muda malang) masih mengunakan induk bahasa jawa. Beberapa istilah-istilah di bawah ini Bahasa Jawa memang cukup beragam corak dialeknya, keragaman ini dipengaruhi banyak factor juga. Salah satu yang cukup dominant berpengaruh adalah posisi daerahnya, dimana daerah tersebut berinteraksi lansung dengan beberapa bahasa lain disekitarnya.

Bahasa walikan ini sekarang sudah berbaur dengan bahasa Malangan, bahkan, sudah menjadi trade mark warga Malang. Bahkan sudah menjadi bahasa gaul dari berbagai kalangan, baik yang muda, ang tua, kalangan pelajar mahasiswa atau warga di aktifitas yang lainnya. Salah satu fungsi nyata bahasa walikan ini adalah memperkuat modal social masyarakat berupa semakin eratnya hubungan persaudaraan,saling percaya dan bisa bekerja sama disemua sector.

Lain lagi para Aremania yang ternyata sudah membumi dengan bahasa Malangan. Penggunaan bahasa Malangan itu ternyata kerap digunakan. Ini menunjukkan kebanggaan sebagai warga Malang. "Sekitar 80 persen Aremania menerapkan bahasa walikan. Kami malah bangga menggunakan bahasa Malangan ketika sedang tur mengikuti pertandingan Arema. Bahasa itu kami gunakan untuk memuji Arema atau mengkritik tim lawan," kata Agus Kancil, ketua Korwil Aremania Kasin.

Lalu, dari mana munculnya bahasa walikan ini?
Pengamat sejarah dari Universitas Negeri Malang (UM) Dwi Cahyono menjelaskan, bahasa walikan yang kini sudah menjadi bahasa gaul tersebut sudah lama digunakan para pejuang di masa sebelum kemerdekaan. Bahasa walikan sudah lama menjadi sandi-sandi khusus para pejuang untuk berkomunikasi dengan para pribumi. "Ini digunakan untuk mengelabuhi para penjajah di zaman Belanda. Sebab, dengan cara itu, ternyata lebih mudah menjalin hubungan dengan sesama pejuang," terang pengamat sejarah ini.

Kini bahasa walikan sudah membaur jadi satu dengan bahasa Malangan. Bahkan, kini sudah menjadi trade mark warga Malang. "Bahasa Malangan kini sudah menjadi bahasa gaul dari berbagai kalangan. Tidak hanya yang muda. Yang tua pun masih awet menggunakannya. Bahkan, bahasa walikan ini bisa mempererat
hubungan persaudaraan," tutur Dwi.

Kalau dicermati maka ada beberapa kata yang khas asli malang antara lain seperti genaro (orang), ebes (orang tua), ojir (uang), sedangkan kata lainnya, adalah walikan dari bahasa yang umum Misalnya, kadit itreng (tidak ngerti), nakam (makan), nganal (laki-laki), kodew (perempuan), dan silup (polisi). lecep (pecel), sam (mas), kampes (sempak), kubam (mabuk), dan ngetem (meteng).

Ada yang menambahkan silahkan!

Sumber: Akfb dan berbagai sumber
READ MORE - Bahasa Walikan Malang, Saksi Bisu Zaman Perjuangan

Abdul 'Kancil' Kadir, Legenda Timnas Indonesia Yang Terlupakan

Diposting oleh Summer Coffee on Sabtu, 12 Mei 2012

Abdul Kadir (foto kanan), saat masih aktif bermain

Abdul 'Kancil' Kadir, nama mantan pemain Timnas Indonesia tersebut kini mulai ramai dibicarakan, setelah keluarga yang ditinggalkannya dalam kondisi yang memprihatinkan.

Tak banyak yang tahu siapa pemain yang dijuluki Si Kancil ini, padahal, ketika masih hidup dan aktif bermain, Kadir menjadi andalan tim Merah Putih.

Abdul Kadir merupakan pemain kiri luar yang dimiliki Timnas Indonesia lahir di Denpasar, Bali, 27 Desember tahun 1948. Sejak kecil Abdul Kadir sudah menyukai sepakbola, dan klub pertamanya adalah klub amatir Assyabaab di Srabaya.

Kadir pun akhirnya bergabung dengan salah satu klub Galatama, Pardetex, klub asal Sumatera Utara. Permainan gemilangnya pun tercium oleh PSSI, pada usia 16 tahun, pemain yang dijuluki Kancil karena kecepatannya ini pun dipanggil oleh Timnas Indonesia.

Dimulai dari kejuaraan Asian Games yang dulu masih bernama Gafeto pada tahun 1964, Kancil tersebut membela Garuda hingga tahun 1979.

Bersama Timnas, Kadir menyabet sederet prestasi gemilang, di antaranya menjuarai Piala Raja 1968, Merdeka Games 1969, dan Pesta Sukan Singapura 1972.

Kadir juga pernah memperkuat Timnas saat menjadi runner up Piala Presiden Korsel (1970-1972).

Dulu, Indonesia memang menjadi salah satu macan di Asia, hal itu terbukti dengan berbagai gelar yang diraih. Tak hanya itu, gelar pribadi pun juga mampu diraih oleh para pemain Indonesia.

Abdul 'Kancil' Kadir menjadi salah satu pemain yang mendapatkannya, bersama Soejtipto Soentoro, Iswadi Idris, Max Timisela dan Jacob Sihasale, mereka terpilih dalam tim Asia All Stars.

Kancil juga telah mengenyam gaya kepelatihan arsitek hebat, Kancil pernah memperkuat Timnas semasa dipegang pelatih asal Yugoslavia, Tony Pogacnik, Endang Witarsa, Djamiat Dhalhar, dan pelatih asal Belanda, Wiel Coerver.

Abdul Kadir memiliki teknik sepak bola yang sangat tinggi, bahkan tidak kalah dibandingkan pemain dunia saat itu seperti Pele. Maha bintang sepak bola asal Brasil itu pernah bermain di Stadion Utama Senayan bersama klub Santos, Juni 1972 dan sedang berada di puncak kejayaannya setelah membawa Brasil memenangi Piala Dunia 1970.

Dalam sebuah acara di stasiun televisi TVRI, Pele diundang menjadi bintang tamu, dalam acara tersebut Pele mempertontonkan keahliannya mengolah si kulit bundar, dan pemain Indonesia yang mendapat kesempatan untuk mendampingi Pele adalah Si Kancil Abdul Kadir.

Prestasi gemilang di lapangan hijau tersebut ternyata tak sejalan dengan kehidupan pribadinya. Kancil seperti hidup serba kekurangan, selain itu, penyakit ginjal, jantung serta darah tinggi yang dideritanya membuat keuangan keluarga Kancil semakin kritis.

Namun, berbagai macam terpaan yang menimpanya tak membuat kecintaannya pada sepak bola dan juga Tanah Air ini luntur, dalam kondisi sakit, Kancil tetap memaksakan untuk menyaksikan Timnas Indonesia bertanding pada tahun 2002, dan saat itu Indonesia berhasil meraih kemenangan.

Abdul Kadir akhirnya meninggal dunia di Jakarta pada umur 55 tahun pada 4 April tahun 2003. Saat itu, dirinya baru menjalani perawatan di RS Thamrin, saat itu, Kancil dibawa ke rumah sakit oleh Ronny Pattinasarani, Iswadi Idris dan Agum Gumelar.

Pasca meninggalnya Abdul Kadir, kehidupan keluarganya semakin memprihatinkan. Bahkan, anak sulung Abdul Kadir, Areo Jasa Pradira meninggal dunia pada tahun 2005 karena sakit tipus dan ironisnya Areo harus meregang nyawa karena tidak punya biaya berobat.


Sementara itu, tiga anak lainnya belum memiliki pekerjaan yang layak karena bekal pendidikan yang tidak memadai. Meski begitu istri Kancil, Lisa Abdul Kadir mengaku tak menyesal telah menikah dengan seorang pemain bola.


Sebuah hal yang sangat ironis bila melihat segala perjuangan dan juga torehan prestasi yang diberikan oleh Abdul Kadir bagi bangsa ini.

Inilah saatnya bagi PSSI entah pimpinan Djohar Arifin maupun La Nyalla Mattalitti, untuk memberikan perhatiannya kepada keluarga pemain yang pernah mengharumkan nama bangsa.

Kondisi kediaman Alm. Kadir

Beberapa pergerakan untuk membantu keluarga Abdul Kadir pun mulai dilakukan, sekelompok anak muda yang tergabung dalam Kelompok Pemuda Bumi Satria Kencana (KPBSK) akan menggalang bantuan bagi keluarga legenda sepak bola Indonesia ini.

Bagi pecinta bola yang ingin memberikan bantuannya secara langsung, bisa mendatangi kediaman keluarga di alamat Perum Bumi Satria Kencana, Jalan Pandu Dewanata, Blok 1 no.11 Kayuringin, Bekasi Selatan.

Bola.net - Oleh : Hendra Novianto
READ MORE - Abdul 'Kancil' Kadir, Legenda Timnas Indonesia Yang Terlupakan

Dari The Jakmania Untuk Aremania

Diposting oleh Summer Coffee


hilangkan ego pribadi....kelompok,bersatulah DEMI AREMA JADILAH AREMANIA SEPERTI TAHUAN 2000an.
AWAL BERNYANYI DAN MENARI BERSAMA TANPA HENTI.
THE JAKMANIA BELAJAR KEPADA AREMANIA.
SEKARANG GURU KAMI BERBEDA.
HARUSNYA MELIHAT THE JAKMANIA YANG DIKOMANDONI SI NUNG HALIMAH JAKKEMAYORAN BISA MENGOMPAKKAN THE JAKMANIA DARI BERBAGAI KORWIL.
BISA MENJADI CAMBUK UNTUK BERBENAH DIRI INI NAMANYA MURID BERATRAKSI DIDEPAN GURUNYA YANG SEDANG MENGALAMI DILEMA.
BENGKITLAH DAN KEMBALILAH JADI ASLI CIRI KHAS AREMANIA YANG AWAL TAHUNA 2000an

SAJETE_SASAJI
READ MORE - Dari The Jakmania Untuk Aremania

Kenapa Harus Arema?

Diposting oleh Summer Coffee on Selasa, 08 Mei 2012

Aremania, Tidak Kemana-mana, Tapi Dimana-mana

KENAPA HARUS AREMA ?
Kenapa sih harus AREMA? Kenapa bukan SRIWIJAYA yang lagi bagus-bagusnya di ISL? Atau bukan PERSIPURA tim kelewat luar biasa? Atau kenapa bukan MITRA KUKAR klub kaya yang isinya 'bintang' semua?

Ya, kenapa harus A..RE...MA? Sulit memang diungkapkan dengan kata-kata, karena kecintaan terhadap AREMA datang bukan hanya karena faktor yang dimiliki klub lain itu saat ini. Karena AREMA yang dapat membangkitkan semangat para AREMANIA, mengajarkan bagaimana caranya bersyukur ketika menerima kemenangan dan merasakan manisnya kekalahan.

Sama halnya ketika kita sedang jatuh cinta kepada seseorang, apakah pertanyaan ‘kenapa’ itu bisa diungkapan begitu saja? Tidak, bukan hanya alasan semata. Karena mencintai itu bukan ‘mengapa’ tapi ‘bagaimana’ dan bukan ‘dari kapan’ tapi ‘sampai kapan’. Mungkin memang awalnya karena para pemain (yang sebelumnya) di AREMA dan mengenalkan kita pada sejarah, arti sepakbola sesungguhnya dan kecintaan terhadap klub serta sikap loyalitasan sebagai pendukung dan bukan penonton.

Ketika pemain- pemain tertentu itu bahkan ‘kurang’ menunjukkan arti keloyalitasannya sebagai pemain di klub kebanggan kita ini, apakah kita akan mengikuti jejaknya? Tentu saja tidak. Saya ambil salah satu contoh saja, misalnya awalnya saya fanatic dan suka sama MARCIO SOUZA, kemudian kini dia ber-jerseykan persib. Apa saya akan ikut mendukung persib? Tidak!!! Darah saya mengalir biru arema dan sampai kapan pun tidak ada yang bisa merubahnya. Darah saya tetaplah biru arema tanpa ada 'embel-embel' atau campuran didalamnya, sama seperti warna jersey yang dikenakan oleh para 'ksatria-ksatria' Singo Edan ketika bermain. Begitu gagahnya…..

Terkadang bahkan lelah mendengar pertanyaan- pertanyaan 'bodoh' orang tentang kenapa kita yang masih mau mendukung AREMA. Mendengar ocehan-ocehan dan komentar pedas saat AREMA terus dan terus menyantap kekalahan atau sedikit ledekan karena AREMA saat ini tidak berperan aktif dalam papan atas ISL . Tapi sekali lagi, dan saya tak pernah malu mengulanginya, semua pertanyaan ‘kenapa’ begitu sulit dijawab dengan ‘karena’. Jawabannya mungkin hanya satu, karena kami AREMANIA. Kami terdengar dan terlihat begitu berbeda dari supporter-supporter lainnya..

Menjadi Aremania mengajarkan Kami pada kata "LOYALITAS"

Menjadi AREMANIA yang begitu mencintai AREMA telah mengajarkan kami akan arti dari sebuah keloyalitasan, sebuah sikap sederhana yang mengajarkan kami untuk terus bersama, saat kalah, atau saat pesta kemenangan. Bersabar karena Kami yakin, suatu hari nanti akan tiba hari indah yang t'lah lama kami nanti, setia kawan karena makna dari ‘You’ll Never Walk Alone’ yang setiap hari kami ucapkan, memiliki makna yang begitu mendalam. Dan karena AREMA sendiri yang seolah-olah telah mengikat dan mengunci hati kami sehingga tak dapat pergi dan berlari ke lain hati. Ya, begitulah kami, para Aremania.

Terimakasih, karena komentar dan ledekkan kalian malah membuat kami semakin tegar dan dewasa. Daaaaan sekali lagi saya ucapkan “Untuk mencintai dan mendukung AREMA itu bukan ‘mengapa’ tapi ‘bagaimana’ dan bukan ‘dari kapan’ tapi ‘sampai kapan’.

Dan kami tahu jawabannya, Selamanya.....

SALAM SATU JIWA

by nawak dulur: Tokichi Uyee (News Arema Community) — News Arema
READ MORE - Kenapa Harus Arema?

Jadilah Suporter Yang Profesional, #profesional90menit

Diposting oleh Summer Coffee on Senin, 07 Mei 2012

Aremania (Foto: Wearemania)

Tulisan ini menggunakan bahasa Jawa-Malang, yang inti tulisannya adalah kita tidak perlu malu meneror pemain Persija, Persela, Deltras dll karena mereka adalah pemain yang akan mengalahkan tim kita. Tanpa perlu sungkan dengan suporternya sebab yang kita teror bukan suporter melainkan pemain. Bukankah tugas kita adalah mensuport tim. Usai pertandingan, kita akan berkawan dengan siapa saja. Pemain saja bisa menjadi teman di luar lapangan dan berduel mati-matian dengan temannya itu seperti tidak saling kenal. Pertanyaannya, bisakah kita membantu pemain kesayangan kita untuk menaikkan moralnnya dan menjatuhkan lawannya. Simak uraian lengkapnya...

#profesional90menit, intine sih suporter yo kudu osi profesional, ga mek pemain thok.. :). Iki soale Ayas risih krungu lagu "bonek jancok, viking anjing", padahal sing dilawan guduk Persebaya / Persib. Opo maneh pas laga lawan Persija, ono lagu "Persija Arema kita sodara", otomatis pemain Persija kadit terintimidasi. Sejujurnya Ayas kangen lagu-lagu Aremania mbiyen, koyo' "keras...keras, Arema keras!", iku wes jarang krungu saiki. Aremania saiki lebih sering nyanyi "bonek jancok, viking anjing", pertanyaan-e ono bonek/viking ndek stadion a?

Misale laga vs Persebaya / vs Persib gapopo sih.. Lha lek sing niam pas vs Persija / vs Deltras? Neror sopo rek? Ayas rikip pemain-e Persija, Deltras, dll. gak bakal tertekan lek lagune "bonek jancok, viking anjing". Malah ono kemungkinan Arif Ariyanto (Arema #9) sing bakal merasa tertekan, mengingat pemain iku dibesarkan Persebaya. Sementara pemain tim lawan yo santai ae, lha sing diteror ambek Aremania iku Bon-Vik, guduk pemain/klub sing lagi niam.

Padahal ndek Gajayana biyen, sing diteror Aremania iku pemain & tim lawan sing niam ndek lapangan, guduk suporter lho. Ayas eling, mbiyen pas lawan Persija, lagu-lagu koyo' "Persijancok dibunuh saja" mesti terdengar teko' seluruh tribun. Kamsud-e ayas iki guduk ngadu Aremania ambek Jakmania lho yo, eling sing diteror iku klub lawan, guduk suporter lawan. Cekno Kanjuruhan dadi "neraka" gae lawan. Koyo Gajayana biyen. Arema jago kandang soale ono Aremania sing ngrewangi.

Teror Aremania iku efektif gae menjatuhkan mental pemain lawan, mirip Arema vs Persib wingi, Marcio nganti g iso opo-opo. Lha lek lawane guduk Persebaya/Persib, nyanyine sek "bonek jancok, viking anjing", yo ga ono sing terintimidasi rek. Lagu motivasi gae Arema yo wis jarang krungu, paling-paling lagu "salam satu jiwa" thok sing sering dinyanyi'no ndek tribun. Padahal, biyen Aremania wani ngarani pemain-e sing niam elek, conto-e lagu "Kuncoro licik..Kuncoro licik." Pemain Arema sing di-ilokno ambek Aremania bakal termotivasi gae main apik, bakal isin di-ilokno Aremania sak stadion. Makane biyen ono istilah "lek ga kuat mental ditekan Aremania, ga bakal cocok main ndek Arema."

Lagu motivasi biyen yo ono "ebes...ebes", tujuane nipu pemain Arema cekno dikiro ono Ebes Sugiyono ndek tribun. Gara-gara lagu iku, pemain Arema dadi trengginas, soale "wani kelangan sikil timbangane kelangan rai ndek ngarepe ebes." Terus lagu "keras..keras, Arema keras" iku yo osi ngangkat motivasi pemain cekno niam keras, permainan khas arek Malang. Sing paling jarang yo lagu-lagu neror tim lawan, opo maneh lek lawane Persija/Deltras, ga ono lagu neror pemain 2 tim iku. Pas Arema vs Persija, Aremania & Jakmania nyanyi "bonek jancok, viking anjing". Padahal ga ono Bon-Vik ndek stadion. Siapapun yg di atas lapangan hijau = MUSUH | Saudara hanya utk yg di TRIBUN !!

Seng sering lagu gembel-gembel ganok penyemangate blas, jare pemain yo ngono. Terus opo gunae dadi suporter lek ga berusaha menaikkan mental pemain tim kesayangan & menjatuhkan mental pemain lawan. Ga usah dinyanyi'no lho asu-asu iku yo wes eruh.. Opo maneh TV mesti nyensor, guwak-guwak tenogo ae. Kabeh Aremania = Anti Kenob.Tp percuma lek di pisuhi dek stadion. Mending lek ketemu langsung dilokop ae.

Pemain yang saling jegal sepanjang 90 menit, usai pertandingan pun tetap menjadi kawan

Masio seduluran, ayas rikip dalam 90 mnt posisi-ne dadi musuh, profesional membela tim-e dewe & mengintimidasi tim lawan. Ga ono sungkan, pakewuh, or rasa ga enak. Di luar 90 menit posisi seduluran, tapi di dalam 90 menit, posisi dadi musuh. Persija, Bambang Pamungkas, Rahmat Affandi, dll kudu dadi cercaan Aremania sesuk tanggal 6 Mei ndek Manahan. Jakmania, selama 90 menit pada 6 Mei 2012 ndek njero Manahan iku lawan rek, tapi ndek njobo stadion tetep sedulur. Moso' ga ngregani perjuangan pemain Arema sing berusaha profesional ndek lapangan, mereka berjuang rek, ayo direwangi!

Mbiyen pas team lawan ublem kandang singo pelatih-pelatih e musuh pst ngomong "jangan biarkan aremania bernyanyi" iki bukti lek aremania di segani. Aremania dewe sing osi, mari belajar bareng dadi suporter

#profesional90menit, saling mengingatkan. Opo ga wedi pemain lawan lek Aremania nyanyi "moleh tawur" / "ga iso moleh", or BePe disoraki "BePe memble." Suporter dewasa pasti akan menanggapi dengan sportif, tapi setidaknya mari kita hilangkan kebiasaan misuhi Bon-Vik yg g ada di tribun. Suporter dewasa itu bisa menempatkan posisinya , kalo masih bolo-boloan ya suporter. Nah, lebih baik bersaing dalam kreatifitas & pmbuatan rekor. Masio dulur, misuhi gawe ngerusak mental pemain lawan gakpopo. Nang lapangan lawan, nang tribun kawan.

Seme dan Njanka sing sepupuan ae lho osi fight 90 menit, suporter kudune yo iso. Pemain ae lho #profesional90menit, mosok suporter kadit osi? Lek kadit osi, yo bersorak'o "Arema Persija kita sodara" pas Arema kebobolan. R. Affandi ga bakal sungkan ate njebol gawang-e Meiga, mosok koen sik sungkan ngilokno Persija sing lagi dilawan Arema? Seme ae lho ga sungkan njegal BePe ndek lapangan, mosok koen ga pengen ngrewangi Seme gae menjatuhkan mental-e BePe? Lek sesuk sik nyanyi "bonek jancok, viking anjing", podo ae ngrewangi Persija. Kan Persib-Persebaya musuh Persija. Sing suporter ababil iku kudu dielingno, diajari dadi suporter sing reneb. Biyen awak dewe osi berubah kok, moso' saiki kadit osi.


  • #profesional90menit iku vs Persebaya nyanyi "bonek jancok", vs Detras nyanyi "deltras jancok", vs Persija nyanyi "persijancok", dll.
  • #profesional90menit iku ciri suporter dewasa: osi memposisikan diri sesuai tempatnya, masio seduluran, yo selama 90 menit iku dadi lawan.
  • #profesional90menit iku rivalitas berbalut sportivitas, ga ono boloan ambek suporter tim lawan, kabeh support (dukung) tim-e dhewe-dhewe.
  • #profesional90menit iku neror tim sing niam lawan Arema, guduk suporter/klub rival sing antah berantah ga jelas posisine ndek stadion..
  • #profesional90menit iku dukung Arema untuk memotivasi pemain, guduk misuhi klub/suporter ibukota jatim & ibukota jabar..
  • #profesional90menit iku ngajari Aremania licek cekno terbiasa neror tim lawan, sekaligus kadit melestarikan permusuhan ambek kenob/viking..
  • #profesional90menit iku ngajari Aremania licek cekno eruh, tim endi sing didukung. Cekno werno syal-e ttp biru, ga biru-orange/biru-merah..
  • #profesional90menit iku ngajari Aremania licek cekno bener-bener dadi Aremania, sing dukung Arema 100%, tanpa memusuhi yg lain.. Sportif!
  • #profesional90menit iku berpotensi menghilangkan dua kutub suporter, sekaligus melestarikan sikap "musuhmu bukanlah musuhku".. Sportif!
  • Ayo rek, #profesional90menit di dalam stadion adalah musuh, di luar stadion tetap saudara.. Aremania ada untuk Arema! Salam satu jiwa!


ONGISNADE BOGOR-Wearemania
READ MORE - Jadilah Suporter Yang Profesional, #profesional90menit

Catatan Perjalanan Aremania, Fenomena Malang dan Aremania

Diposting oleh Summer Coffee on Sabtu, 05 Mei 2012

Foto: Aremania Transformes

Malangkah nasib Arema? Bisa ya, bisa tidak. Tergantung dilihat dari sisi apa. Klub berjuluk Singo Edan yang bermarkas di Kota Apel itu memang “kaya” segala-galanya. Termasuk kaya masalah. Dana terutama. Sebuah stereotip klub-klub peserta LI.


Kesebelasan Arema Malang, punya ikatan emosional yang kuat dengan para suporternya.

Manajer Arema di LI VI, Gandi Yogatama, cuma tertawa ketika dimintai penjelasan seputar nasib Arema. “Ya, seperti inilah kami. Tenar dan seolah punya nama besar, tapi faktanya selalu kesulitan dana. Para pemain pun tampaknya sudah biasa hidup dalam situasi begini,” ujar direktur teknik PDAM Malang yang sempat memimpin Persema ini.
Jangan heran misalnya, ada satu momen satu hari menjelang partai tandang, Arema belum punya ongkos sepeser pun. Di Jayapura, saat Joko Susilo dkk. usai tampil melawan Persipura dan mesti terbang ke Makassar, hal serupa terjadi.

Gaji Kecil
“Tapi, satu hal yang pasti, pemain tak perlu tahu soal ini. Konsentrasi mereka cuma main bagus, itu saja. Soal duit, urusan pengurus,” lanjut Gandi.
Nyamankah tinggal di klub seperti ini? Entahlah. Fakta berbicara, bahkan pemain asing sekelas Rodrigo Araya pun rela meninggalkan Persma Manado dan malah main di Malang.
“Padahal, gaji saya sekarang lebih kecil dibanding saat membela Persma. Teman saya, Juan Rubio, bilang, ‘atmosfer sepakbola Malang luar biasa’. Saya sudah membuktikannya,” ujar bintang asal Cili tersebut.
“Soal gaji sering terlambat, sudah biasa, Mas. Tak soal gaji saya sekarang lebih kecil dibanding saat membela Persija di LI IV,” kata Joko, yang menyebut fanatisme dan iklim kekeluargaan menjadi modal utama klubnya.
Fanatisme itu kadang terasa berlebihan. Misalnya saat pemain gelandang Nanang Supriyadi dipinang Persikota. Beberapa suporter tak terima. Mereka nekat menjemput Nanang di Tangerang dan membawanya pulang ke Malang!
“Tadinya saya ingin cari nuansa baru, tapi melihat dukungan suporter seperti itu, saya jadi terharu,” tutur Nanang.

Kurang Laku
Para Aremania itu membayar “pemaksaannya” terhadap pemain dengan dukungan yang sebanding. Di bawah siraman hujan, tanpa kenal lelah mereka bernyanyi, menari, dan terus memberi semangat. Fanatisme juga merembes ke seluruh pelosok Malang, kotamadya maupun kabupaten, serta pada Aremania yang tengah mencari penghidupan di seluruh pelosok Nusantara.
Pendek kata, apa pun yang tengah terjadi di dalam keluarga Arema, seluruh Aremania mengkopinya. Seperti isu paling gres, saat tim asuhan M. Basri itu berniat merekrut striker asal Montenegro, Dejan Gluscevic.
Dengan kekuatan seperti itu, mustahil Arema tak laku dijual kepada sponsor. “Tapi, hasilnya belum memuaskan juga. Padahal, kami sudah memasukkan proposal ke perusahaan-perusahaan besar di sekitar Malang,” sebut Eko Subekti, Sekretaris Yayasan Arema, lembaga bentukan tokoh bola Acub Zainal.
Tentu ada yang tidak beres. Apakah Arema yang tak laku, kurang detail dalam menyajikan proposal layaknya klub-klub bonafid, atau justru citra LI secara umum yang melemahkan nilai Arema?
Fenomena ini yang jadi PR kita bersama. Sungguh ironis bila tim sepopuler Arema mengalami nasib malang. Kini, tanggung jawab sementara dititikberatkan pada pemain. Lewat prestasi, mereka diharap mampu mengkatrol nilai jual timnya.
“Insya Allah kami bisa mewujudkannya,” ucap I Putu
Gede, andalan Arema.

Sigit Nugroho/Anang
Prihasto/Foto: Dwi Ary Setyadi-
READ MORE - Catatan Perjalanan Aremania, Fenomena Malang dan Aremania

Catatan Perjalanan Aremania, Kadit Itreng Kera Ngalam

Diposting oleh Summer Coffee


Catatan Sepakbola Sigit Nugroho (wartawan BOLA) - 05 jan 2000

KADIT ITRENG KERA NGALAM?

Entah kapan dimulainya bahasa aneh yang berkembang di masyarakat Malang. Mereka suka membolak-balik kata. Tidak ngerti jadi kadit itreng. Arek Malang jadi Kera Ngalam. Namun, budaya jalanan itu telah diterima dengan baik oleh warganya.
Bukan cuma karena ingin membuktikan hal itu kalau pada pekan ketiga Desember lalu saya nekat pergi ke Malang meski kondisi tubuh sedang sakit. Fokus saya lebih tertuju pada Aremania, kelompok suporter tim Singo Edan.

Harumnya citra mereka sudah saya cium langsung di beberapa kota. Yang paling buncit, saat mendukung Caris Yulianto dkk. di Stadion Lebak Bulus, Jakarta, di LI V. Kala itu Arema dibungkus Pelita Bakrie 0-1. Aremania tak mengamuk, layaknya kelompok-kelompok suporter tim lain. Mereka bahkan memaafkan dan membesarkan hati para pemain. Soal kreasi di tribun rakyat, jangan tanya. Mereka jagonya. Cuma, apakah sikap menerima kekalahan juga berlaku di Malang? Lain soal. Sebab beberapa tahun lalu, kota Malang (terutama mobil-mobil pelat nomor L (Surabaya) kenyang pengalaman menerima pelampiasan kekesalan suporter. Kebetulan, 22 Desember itu Arema akan menjamu Persija dalam sebuah partai uji coba di Stadion Gajayana.
Peluang kalah amat terbuka sebab yang mereka hadapi adalah tim matang dan sarat bintang. Dugaan saya benar. Bambang Pamungkas dkk. membungkam tuan rumah 2-1.
Jujur saja, demi pembuktian naiknya tingkat sportivitas Aremania, saya memang sedikit berharap Arema kalah. Ini bukan perkara dukung-mendukung tim, sebab sebagai wartawan saya mesti netral.
Fakta di lapangan ternyata amat mengejutkan sekaligus membanggakan. Sekali lagi, mereka bisa menerima kekalahan dengan sportif. Tak ada amuk masa. Memang,sempat terjadi sepotong insiden yang melibatkan striker temperamental Arema asal Cili, Rodriguez “Pacho” Rubio dengan stoper Persija, Nur’alim. Perkiraan saya, mereka bakal mengeroyok Nur’alim. Kejadian itu nyaris terjadi tatkala sekelompok massa berloncatan dan memburu pemain Persija itu. Namun, mereka segera disambut rekan-rekannya, sesama Aremania.

Bisa Ditularkan

“Hei, ingat! Kita bukan bonek! Jaga citra Aremania! Jaga citra Malang!” begitu seru para pemimpin kelompok lewat pengeras suara. Dan sebuah momen yang tak terlupakan sempat saya rekam. Para Aremania yang masih mentah dan emosional itu dihajar balik oleh ratusan Aremania yang benar-benar ingin menjaga citra tim dan kotanya!
Soal Pacho? Mereka bahkan mencemoohnya. “Sudah tidak zamannya lagi pemain mengumbar emosi. Makanya kami selalu tekankan kepada pemain dan suporter untuk bertindak sportif. Jangan berbuat kasar, apalagi onar seperti bonek,” ucap Ivan Syahrul, Aremania dari kelompok Ultras.
Tentu saja, para bonek tak perlu panas hati mendengar sentilan Ivan. Sebab, tidak semua suporter Persebaya bermental jelek. Cuma, harus diakui, perilaku arek-arek Suroboyo yang brutal lainnya telah mencemari citra tim Bajul Ijo.
Saya bertanya-tanya, akankah di tahun 2000 nanti pemahaman suporter Arema tentang sepakbola positif tersebut bakal bisa ditularkan ke kota-kota lain di Indonesia? Jawabannya ada pada masyarakat sepakbola Indonesia semua, baik PSSI, klub, pers, dan para suporter itu sendiri. PSSI perlu lebih proaktif dalam menyikapi iklim baik ini. Jangan lagi cuma mengandalkan perbaikan alamiah yang tumbuh di luar seperti gaya PSSI selama ini.
Pers pun perlu mensosialisasikan segenap perkembangan agar bisa memancing kesadaran warga bola lainnya. Mari kita bekerja sama.

READ MORE - Catatan Perjalanan Aremania, Kadit Itreng Kera Ngalam

Cerita Tour Pekanbaru, Aremania Pekanbaru

Diposting oleh Summer Coffee on Jumat, 04 Mei 2012


Gambar diatas bukanlah promosi warung yang numpang di postingan ini, tapi gambaran kami aremania pekanbaru berbahagia menyambut para punggawa Arema yang berlaga di Pekanbaru, Rabu (2/5) melawan PSPS. Sam Sulis sibuk dengan telpon nya menyiapkan dan berkoordinasi, dibantu oleh panglima Aremania Pekanbaru si bocah bengal Nicky yang selalu siap menjadi pasukan sapu jagat bagian desain dan urusan spanduk , bendera dan kelengkapan dukungan kami untuk arema.

Gambar itu tidak seperti hari-hari biasa ada di pecel lele pak sugeng , kami menyulap ruangan panas dan rapat akan meja itu dalam sepagi dan semalam , Banner cetak , tempel san-sini dan menyulap warung sederhana menjadi ruangan eksklusif layaknya pers conference dalam tangkapan lensa kamera dipenuhi foto-foto dukungan aremania pekanbaru setiap laga Arema .

Terima kasih sudah datang dan singgah untuk memnuhi undangan kami yang jauh dari bhumi arema , sekedar makan siang pecel lele dari tangan putra arema yang memimpin aremania Pekanbaru, Nuwus sam Sugenk untuk dukunganya dan kami pun bangga bisa sedekat itu melihat berjubelnya aremania melihat dari dekat wajah idola kami para punggawa arema.


Kami, aremania pekanbaru yang berkolaborasi dengan nawak-nawak Duri, Kerinci, Kuansing dan Aremania lainya berangkat meninggalkan Pekanbaru menuju Kuansing, dengan rombongan konvoi yang bertambah sampai dengan 24 mobil dan 1 bis. Dan dengan semangat mendukung arema berlaga dengan waktu tempuh 3 3,5 jam, melelahkan dengan pandangan sawit sejauh mata memandang namun cerita tentang kebahagiaan bisa melihat pemain dari dekat selalu tidak ada habisnya kami ceritakan dan tertawa mengingat momen hari minggu itu, dimana kami dengan bangga mengakui all out untuk AREMA #RISETOFIGHT.

Kami pun mengabarkan kepada dunia digital perjalanan kami, rombongan kami dan foto-foto seadanya di twitter dengan hanya tujuan berbagi cerita bahwa aremania ada dimana-mana dan tidak kemana-mana, tak pernah lelah dukung arema. Dan perjalanan pun semakin menarik dan berdegup gembira ketika kami memasuki area stadion yang dengan ciri khasnya bangunan menyerupai UFO

"KAMI DATANG KUANSING!!!"


"KAMI AREMA SALAM SATU JIWA DI INDONESIA KAN SLALU ADA , SLALU BERSAMA UNTUK KEMENANGAN , KAMI A..RE...MA"


Klakson mobil kami pun bunyikan sebagai tanda sapaan kepada rekan-rekan supporter PSPS. Dan kami tiba pukul 14:30 , dan berbeda nawak , stadion masih sepi dan jangan dibayangkan cerita seperti antrian panjang aremania yang ada dikanjuruhan ketika arema berlaga, salute untuk nawak-nawak aremania yang slalu mendukung ke Kanjuruhan.


Di Kuansing Sport Center kami pun siap mendukung AREMA. Pasang spanduk, banner, pasang bendera raksasa ,dan tentunya memastikan snar drum dan penggebuknya siap diposisi untuk tak pernah berhenti menabuh..menabuh..dan menabuh ..meski kami pun tidak sebegitu fokus dengan kemana bola arah bergulir dan tentunya jangan tanyakan detail kami bagaimana menjawab bak komentator dengan JEGEEERRRR nya , karena kami telah selesai dari dunia luar ketika ada didalam stadion alias sinyal data almarhum , begitupun admin @aremafc harus mengupdate berita pertandingan melalui sms dengan admin @aremafc yang ada dijakarta. Nuwus @athiex_82 ambe sam @ilmakoseng yang masih dengan keterbatasan mengabarkan pertandingan arema, karena kami generasi digital yes?*niru aksen e ilmakoseng*



Kalo untuk detail pertandingan yang sibuk sms update twitter feed antar admin mungkin bisa lihat dan baca timeline, kami hanya sesekali ada dilapangan mata tertuju namun jujur dengan kekalahan 1-0 dari PSPS, ada perasaan kecewa karena seharusnya arema bisa seri atau menang sekalipun.

Agak aneh sih memang permainan bola-bola mati arema yang cukup banyak dekat dengan kotak 16, tapi ada kejanggalan untuk kami yang bukanlah pengamat bola.. Ya , kenapa Dzumafo yang harus mengeksekusi setiap tendangan bebas? sedangkan tendangan bebas itu adalah peluang juga untuk menjebol gawang PSPS, dan sudah dapat ditebak kalo kita tidak melihat Dzumafo dengan tendangan-tendangan gledek dan cenderung akurat.

Kami tidak berburuk sangka tapi kami pantas mempertanyakan hal ini kepada sam Joko Gethuk mengenai keputusan dan instruksi mempertahankan dzumafo tanpa semangat juang dan cenderung setengah hati bermain tidak seperti saat tidak melawan PSPS. Kami tidak melihat semangat juang striker menakutkan yang masuk daftar topskor ISL..Sentuhan-sentuhan bola dan passing setengah hati dan tidak ada body charge berarti dengan para bek lawan , bahkan NGKONG pun harus sampai ditandu karena ditebas bek lawan.


Dan itu adalah bukti juga kalo kami tidak berkonsetrasi melihat pertandingan tapi berkonsentrasi bernyanyi dan bernyanyi memberi dukungan , karena ada celetukan nawak aremania "Sam, kok Pemaine mek kari 10? sopo sing dikaru abang? ndlahom wes jawaban yang diberikan , tapi setelah dirunut-runut bahwa NGKONG ditarik keluar namun jatah pergantian sudah habis!! pantes maen mek 10 Wong mbress!!\

Sempat kami bergembira bersorak ketika gol disamakan namun dianulir dengan alasan offside , kami hormati wasit tapi kami melihat dekat dengan gawang PSPS tepat disisi hakim garis kalo gol itu scrimits dan seharusnya menjadi gol penyama kedudukan. Tapi wasit tetaplah wasit meskipun mohon maaf "wasit jancok nyanyian langsung spontan terlontar dari tribun dan sempat membuat supporter PSPS terprovokasi , meskipun yang memperovokasi itu tanpa atribut sih"

Dan Laga pun harus usai dengan kekalahan, kekalahan yang meninggalkan pertanyaan besar , kenapa Dzumafo dipasang full time, ngambil tendangan bebas?


Kami pun menunggu satu hal terakhir pelipur lara kekalahan, apa itu?. Berharap pemain mendatangi kami, menepukkan tangan diatas, hormat terakhir ke penonton!! Tapi sepertinya pemain arema terlalu sedih dengan kekalahan ini sepertinya mereka lupa, sedang berlaga tandang jauh dari kota dan kami pun berbondong datang kesana mendukung, kami ada disana, bernyanyi tanpa henti, mengibarkan bendera kebanggaan AREMA dan pulang dengan tragedi bis mogok , mobil ada yang mogok radiator bermasalah dan kelaparan tentunya karena tak selera juga makan sedang dalam kondisi lelah dan kecewa harus melihat kekalahan tim kebanggaan kami , AREMA!

"Mudah-mudahan para pemain official arema tidak kembali lupa, berilah salam kepada supporter yang jauh datang untuk mendukung, mendekatlah ketribun kami aremania, ingat di solo lawan persija nawak-nawak dari Jakarta dll pun datang dan dari penjuru datang untuk mendukung jangan sampai hal sepele namun berharga itu terlewat oleh Para Punggawa kebanggan Kami AREMA! , Satukan Tekadmu Kobarkan Semangatmu , Aremania Selalu Mendukungmu !!!

Rendra - Aremania Pekanbaru - Wearemania
READ MORE - Cerita Tour Pekanbaru, Aremania Pekanbaru

Rise And Shine

Diposting oleh Summer Coffee on Selasa, 01 Mei 2012

Kreatifitas Aremania-Foto:Wearemania

Arema Indonesia yang berkompetisi di Indonesia Super League (ISL) telah bangkit. Selama putaran 1 atau hingga pertandingan ke 20, tidak pernah sekalipun Arema meraih kemenangan beruntun. Bahkan dari 17 pertandingan putaran pertama, Arema hanya sanggup memenangkan 3 pertandingan. Hal ini menjadi rekor terburuk dalam sejarah Arema.

Namun, roda kehidupan laksana berputar bagi klub yang berdiri pada 11 Agustus 1987 tersebut. Setelah melalui 3 kekalahan beruntun dalam skor tipis pada tour Papua, perjuangan para pemain ditunjukkan dengan memenangkan 2 pertandingan kandang berikutnya. Dua kemenangan beruntun didapat di masa krusial dengan lawan yang tidak bisa dianggap enteng. Persib Bandung berhasil ditumbangkan oleh klub berjuluk Singo Edan ini dengan skor 2-1 pada 25 April 2012. Selang 3 hari sesudahnya giliran Pelita Jaya, berhasil dikalahkan dengan skor 3-2.

Momen kebangkitan tim Arema juga diikuti oleh kesuksesan panpel Arema dalam menyelenggarakan pertandingan, terutama dari segi meningkatnya animo publik untuk datang ke stadion. Peningkatan ini terasa signifikan apabila dibandingkan dengan jumlah penonton Arema yang didapat pada putaran I lalu.

Pada putaran I ISL musim ini total 67803 penonton memadati Stadion Kanjuruhan menyaksikan jalannya pertandingan Arema. Dengan jumlah pertandingan kandang sebanyak 9 pertandingan, rata-rata terdapat 7534 penonton memadati setiap pertandingan Arema. Jumlah ini tentu saja minim jika dibandingkan dengan rata-rata jumlah tiket yang disediakan panpel Arema sekitar 33000 tiket setiap pertandingan. Artinya jumlah tiket yang terjual hanya sebesar 22,8% saja dari kapasitas tiket yang dicetak.

Adapun jumlah penonton tertinggi musim lalu didapat dari pertandingan melawan Persija Jakarta yang dipadati sekitar 16648 orang penonton, sedangkan jumlah penonton terendah terdapat pada partai Arema melawan Sriwijaya FC yang ditonton 2818 penonton.

Sedangkan pada putaran II ISL musim ini hanya dari dua pertandingan melawan Persib Bandung dan Pelita Jaya, panpel Arema sukses mendatangkan 40080 orang(masing-masing 22408 dan 18032 penonton) atau rata-rata 20040 orang di setiap pertandingan. Meski baru berlangsung 2 pertandingan namun rata-rata jumlah penonton tersebut sudah melebihi rata-rata penonton kandang Arema di putaran II ISL musim lalu yang menembus 19083 penonton(total 152668 penonton dalam 8 pertandingan kandang). Jika dibandingkan dengan putaran I musim ini maka prosentase kenaikan jumlah penonton mencapai 266%

Luar biasa sekalipun baru terlihat di dua pertandingan saja, rataan penonton yang naik tentunya segaris lurus dengan kenaikan perkiraan pendapatan dari sektor tiket. Dengan prosentase kenaikan jumlah penonton diatas maka setidaknya kenaikan pendapatan dari sektor tiket dapat mencapai 2,5 kali lipat dari rata-rata pendapatan operasional di setiap pertandingan kandang pada putaran I musim ini.

Kesuksesan yang diraih panpel Arema yang berlaga di ISL tidaklah berlangsung singkat. Seolah menjadi anomali bagi 'kompatriotnya' Arema yang berlaga di IPL, keduanya meraih kesuksesan dalam merebut hati suporter, Aremania di kesempatan yang berbeda

Panpel Arema IPL sempat meraih kesuksesan hasil dari membanjirnya jumlah penonton di kandangnya, Stadion Gajayana Malang beberapa bulan lalu. Dibawah arahan pelatih Milomir Seslija beserta sederetan pemain yang pernah menjadi pilar kesuksesan Singo Edan dalam 2 pertandingan awal IPL dibanjiri sekitar 35660 penonton atau sekitar 17830 orang di setiap pertandingan.

Hasil tersebut tidak terlepas oleh kegemilangan yang diraih klub di awal musim. Mereka meraih 2 kemenangan beruntun nan penting melawan PSMS Medan(IPL) dan Persibo Bojonegoro dengan skor 2-1 dan 2-0. Istimewanya mereka meraih hasil positif tersebut di tengah merosotnya intensitas dan animo suporter ditengah dualisme yang mengancam masa depan Arema secara keseluruhan.

Namun, blunder yang dilakukan manajemen dan investor klub yang memaksa hengkangnya pelatih utama Milomir Seslija beserta sejumlah pemain inti menyebabkan kekecewaan besar di kalangan suporter. Blunder besar dalam me-manage tim yang menyebabkan 'terbuangnya' Noh Alam Shah, M. Ridhuan, dkk tidak direspon secara positif oleh suporter. Akibatnya jumlah penonton Arema IPL mengalami penurunan drastis. Sisa kompetisi IPL harus dilalui dengan rata-rata kurang dari 3000 penonton saja yang datang ke stadion. Di AFC Cup pun juga demikian, nyaris jumlah penonton yang hadir kurang dari 10persen dari kapasitas stadion.

Dengan adanya anomali tersebut patut ditunggu klub mana yang akan meraih kesuksesan dimata Aremania, suporter sejati Arema yang selalu mendukung keberadaan klub Singo Edan. Kemeriahan yang terjadi di musim-musim sebelumnya memang belum terulangi lagi di musim ini. Namun kans untuk meraih hasil yang diraih musim lalu masih bisa terukir jika manajemen klub mengetahui bagaimana caranya membangkitkan animo penonton.

Untuk urusan demikian, manajemen Arema yang berkompetisi di ISL telah memenangkan pole position. Mereka mengetahui bagaimana caranya menyenangkan hati suporter. Dengan kenaikan drastis pada jumlah penonton di dua pertandingan perdana putaran II saja sudah menunjukkan progress yang dilakukan klub. Perombakan besar-besaran dilakukan dengan memperbaiki kualitas tim baik secara individu maupun kolektivitas permainan. Hasilnya, para penonton menyukainya seiring dengan derasnya kenaikan animo dan perhatian publik baik lewat media massa maupun social media (Oke)

Oke Suko Raharjo-Wearemania
READ MORE - Rise And Shine

Topshot, Terimakasih Along

Diposting oleh Summer Coffee on Rabu, 25 April 2012


Sambutan kepada Noh Alamshah adalah cacian selama 90 menit. Namun usai pertandingan, ribuan suporter mengucapkan terima kasih atas jasanya.
God Save King
Wearemania.net
READ MORE - Topshot, Terimakasih Along

The Best Moment, Ketika Along Dan Zulkifli Menangis

Diposting oleh Summer Coffee

Along (kiri) dan Zulkifli (Foto:Wearemania)

Ada 3 mantan pemain Arema yang membela Persib Bandung, mereka adalah Zulkifli, Noh Alam Shah, Dan Marcio Souza. Namun ketiganya mendapatkan perlakukan berbeda dari 25ribuan Aremania yang memadati Stadion Kanjuruhan Malang.

Sambutan bernada "buuuuuuu..." langsung ditunjukkan ke awak Persib Bandung, terutama kepada pemain yang merupakan mantan Arema. Namun itu hanya sebentar, karena ribuan Aremania langsung bernyanyi untuk mendukung dan menyemangati punggawa Arema yang ketika itu masih melakukan pemanasan di lapangan bagian utara.

Spanduk-spanduk sebagai penjatuhan mental terbentang di seluruh penjuru stadion Kanjuruhan. Seperti, "Pengkhianat - Siapa Yang Berkhianat Akan Berjalan Sendiri". Termasuk juga tulisan yang agak keras di tribun utara "Go To Hell Marcio-Along, Sampah"

Dari ketiga pemain, Marcio dan Zulkifli oleh Robby, pelatih Persib Bandung dimainkan sebagai starting line up. Sementara itu, mantan kapten Arema Noh Alam Shah duduk di bench. Sebelumnya, memang tidak ada yang salah dan mungkin bagian dari strategi dimana Persib selalu kalah di tiga pertandingan terakhir.

Namun ketika Aremania menyanyikan lagu-lagu penyemangat sebelum laga, Noh Alam Shah yang melakukan pemanasan sendiri bersama pemain cadangan lain menitikkan air mata. Tak ingin dilihat oleh awak media, dia pun segera membasuh mukanya dengan Aqua supaya tidak kelihatan.

Dari sinilah tanda-tanda jika Noh Alam Shah tidak akan dimainkan mulai muncul. Sama seperti ketika Arif Suyono dulu yang membela Sriwijaya yang tidak pernah bermain melawan Arema di kandang Arema.

Spanduk bergambar Marcio yang dibakar

Di awal babak itu pula, di tribun utara, bendera Aremania yang sempat eksis di putaran pertama bergambar Marcio Souza dibakar. Begitu juga dengan jersey Arema yang bertuliskan Marcio. Nampaknya Aremania memang benar-benar kesal terhadap gaya main Marcio yang terlihat mencari gara-gara dan terkesan memprovokasi.

Finally.. Kejadian yang membuat haru adalah di akhir pertandingan. Tepatnya 5 menit sebelum bubar. "Terima kasih terima kasih.... Nooohhh Alam Shaaah..Atas Jasamu, juara liga". Nyanyian Aremania itu diteriakkan berulang-ulang oleh seluruh suporter yang ada didalam stadion, yang membuat Along langsung terlihat meneteskan air mata di bangku cadangan. Tentu ini menjadi sebuah kemakluman karena Along dan Zulkifli termasuk skuad "The Dream Team Arema" ketika membawa Arema meraih juara 2 musim lalu.

Usai pertandingan dengan penuh haru Along dan Zulkifli menghampiri Aremania yang terus bernyanyi mengelu-elukan mereka. Zulkifli dan Along pun tak kuasa menahan tangis bersama sang dirijen Aremania, Yuli Sumpil mereka terlihat penuh emosional. Mereka dipeluk, dimintai foto, dimintai jersey oleh Aremania. Bahkan keduanya tidak sempat berkomentar apapun mengingat sisi emosional yang begitu dalam antara pemain dan suporter.

Along saat menuju ruang ganti

Sampai lorong menuju ruang ganti, Alam Shah masih dalam suasana haru.

Sementara itu, Marcio langsung menuju ke ruang ganti usai pertandingan. Top skor Arema di Indonesia Super Liga itu seolah tidak punya ikatan apapun dengan Aremania. Karena itu pula, dia juga mendapatkan perlakuan berbeda di luar 90 menit ataupun sepanjang pertandingan.

Akhir kata.. Inilah bukti bahwa sepak bola bukan hanya soal urusan mencetak gol ataupun meraih kemenangan. Sepak bola juga memiliki hati. Memilik sisi emosional yang erat antara suporter dan sang pemainnya. Entah itu murni karena hati mereka atau hanya karena ingin dilihat orang. Tapi apapun itu, Kami Aremania tetap menganggap kalian adalah legends. Kalian datang berseragamkan klub lain kali ini. Tapi dihati kami jersey atau seragam kalian masih sama. Yaitu Arema.

YOU ARE LEGENDS BOYS..
GOD BLESS YOU ZUL and SUPER ALONG..
READ MORE - The Best Moment, Ketika Along Dan Zulkifli Menangis

Kreativitas Kami Tidak Mati

Diposting oleh Summer Coffee on Minggu, 15 April 2012


Matinya nurani PSSI yang tidak memilih Arema yang berlaga di ISL sebagai Arema yang sah tidak membuat Aremania mati kreativitas dan kreasi. Buktinya berbagai macam cara unik dan kreatif sudah ditempuh meski 'sebagian' Aremania sudah tidak setia lagi. Hal ini terbukti ketika Stadion di awal-awal liga tidak se semarak di tahun-tahun sebelum. Karena itu, bisa dibilang, inilah musim paling sepi di kandang singa, stadion Kanjuruhan.

Well, lupakan paruh musim, saatnya bangkit. Sebagai euforia yang mungkin beberapa nawak belum tahu, berikut ini adalah sebagian video yang dengan sangat bagus direkam dan diupload oleh nawak-nawak Aremania. Kami tetap ada walau kau membenci kami.

PAPER RAIN
Secara garis besar PAPER RAIN diterjemahkan sebagai hujan kertas. Ya hujan kertas, masih bingung silahkan disimak videonya.



AREMANIA SPARKLES
Ribuan kembang api yang disulut oleh Aremania menjadi aksi yang sangat luar biasa buat musim ini.



AREMANIA INFERNO
Konsepnya adalah hanflare yang dalam rencananya akan membentuk tulisan AREMA, namun tidak semua rencana manusia bisa berhasil karena pasti ada kuasa yang diatas. Tetapi meski 'gagal' tetapi aksi membakar tribun ini terlihat keren #NotBad



Dan masih banyak lagi Kreativitas kami yang mungkin kalian kira sudah mati. Semoga bentuk totalitas dukungan ini akan menambah semangat para punggawa Arema diatas lapangan.

#NeverGiveUp
#SatuAremaISL


Wearemania.net
READ MORE - Kreativitas Kami Tidak Mati

Bad Boy Arema, Noh Alam Shah

Diposting oleh Summer Coffee on Minggu, 08 April 2012


Kini kita akan membahas tentang Bad Boy yang ketiga dan yang terakhir dari bahasan ini yaitu Noh Alam shah.

Noh Alam Shah atau juga yang sering dipanggil Along, pernah mengungkapkan dalam interview dengan The New Paper tahun 2006 (media lokal Singapura), bahwa Dia mendapatkan panggilan Along saat terlibat dalam sebuah gengster ketika masih muda. Along yang dalam Bahasa China dan Bahasa Melayu adalah sebutan untuk Kakak atau Pemimpin dalam kelompok geng China (triad).

Along adalah striker sempurna, Dia memiliki kekuatan fisik, tidak kenal lelah, unggul kecepatan, kuat dalam duel bola udara, dan oportunis didaerah gawang lawan. Namun Along juga merupakan sosok yang kontroversial bahkan sejak sebelum bergabung dengan Arema. Muhammad Ridhuan yang merupakan rekan sekompatriot Along pernah menuturkan bagaimana temperamen dan kontroversialnya rekannya itu.

"Ketika Final Piala Singapura 2007, Alam Shah yang membela Tampines Rovers terlibat insiden dengan sesama rekannya di timnas Singapura, Daniel Bennett yang saat itu membela SAFFC. Saat duel perebutan bola, lutut Along terbang mendarat di kepala Daniel Bennett. Dan keributan antara keduanya pun terjadi, namun ketika berusaha dipisahkan, Along justru menendang kepala bek naturalisasi Singapura tersebut hingga terkapar dan dilarikan ke rumah sakit," tutur Ridhuan.


"Luar biasanya ketika Alam Shah melakukan hal itu di hadapan presiden yang menonton," tambahnya sambil tertawa.

"Di Liga Singapura dia dikenal sebagai pemain keras, kalau derby Tampines Rovers lawan SAFFC hampir pasti dia dapat kartu merah. Karakternya memang seperti itu, dia berasal dari daerah keras saat masih kecil. Tapi dia baik, sangat profesional, dan pemain yang hebat, cerita Ridhuan mengenai pemain yang mengajaknya bergabung ke Arema tersebut.

Dari Negeri Singa ke Kandang Singa

Setelah hijrah ke Arema Along langsung menjadi idola para Aremania, gaya bermainnya keras dan juga gol-golnya menyihir kita semua. Total 15 gol yang berhasil di kemas Along di musim pertamanya di Arema dan sekaligus berhasil mengantarkan Arema sebagai juara ISL 2009/2010 dan Runner Up Piala Indonesia 2010. Namun kontrovesi tetap mengikuti langkahnya hingga ke Malang, akibat karakternya yang keras.

Masih segar dalam Ingatan bagaimana Kita dibuat ketar-ketir, ketika insiden terjadi antara Alam Shah dan F.X. Yanuar, 4 Mei tahun lalu pada pertandingan ISL di Stadion Kanjuruhan saat Arema berhasil menang atas Persela dengan skor 2-1. Banyak kalangan Aremania yang menilai, bahwa ini bakal menjadi dejavu atau ulangan kejadian seperti yang di alami Pacho dan Mbamba yang dihukum dengan terusir dari Liga Indonesia.

Apalagi tindakan itu dilakukan ketika pertandingan ditayangkan live dan disaksikan perwakilan dari AFC, yang sengaja datang untuk memberikan penilaian terhadap ke-profesionalisme-an Arema Indonesia. Benar-benar di depan mata mereka. Bahkan wakil AFC itu terlihat geleng-geleng kepala melihat kejadian tersebut.

Namun, Along masih beruntung dari dua pendahulunya yang sama-sama Bengalnya, Along hanya di dihukum larangan tiga kali pertandingan pada musim kompetisi tahun 2010/2011 dan denda Rp. 50.000.000,- karena tingkahlaku buruk memegang kemaluan dan menendang pemain Persela Lamongan F.X. Yanuar saat Arema menjamu Persela.

Tak cukup disitu, Along sampai harus menyampaikan permintaan maaf atas kartu merah yang didapatnya ketika tim Singo Edan dikalahkan Sriwijaya FC 2-1 pada pertandingan final Piala Indonesia 2010 di Stadion Manahan Solo. Noh Alam Shah diusir keluar lapangan pada menit ke-20 akibat 'tendangan Jet Lee'nya terhadap bek Sriwijaya FC, Preciouse Emuejeraye. Akibat kekurangan jumlah pemain, Arema pun akhirnya harus menelan kekalahan dari Palembang dan harus puas menjadi Runner Up Piala Indonesia.

Namun, kini Along seolah menjelma menjadi orang yang berbeda. Sejak Piere Njanka hengkang dari Arema, Along pun ketiban tugas menjadi Kapten dari skuad Arema. Tugasnya memimpin rekan-rekannya di lapangangan hijau membuat dirinya menjadi lebih tanggung jawab dan kalem dilapangan ga seperti musim lalu. Imbasnya perolehan gol Along juga menurun dari musim kemarin, tapi Arema masih punya banyak gol getter lain selainnya.

Walaupun pemain tersebut sudah tak lagi berkostum Arema. Keras, tak kenal takut, akrab dan setia kawan Along adalah Ikon Arema terhadap perjuangan Arema, ditengah badai dan bencana namun tak kenal menyerah hingga menjadi juara. Di nanti aksi-aksi The Bad Boy of Arema lain, pengganti mereka yang telah terhukum dan terusir demi Arema.

Salam Satu Jiwa

OngisnadeBogor - Wearemania.net
READ MORE - Bad Boy Arema, Noh Alam Shah

Yo Iki Arema Seng Asli

Diposting oleh Summer Coffee


Arema Indonesia yang bermain di kompetisi Indonesia Super Liga ini semakin dinanti kehadirannya oleh Aremania. Meski ada di peringkat 18, semangat Aremania mendukung tim yang dianggap 'asli' ini semakin gencar.

Jika ketika main di Talok Turen kondisinya stadion penuh. Maka kejadian yang sama juga ada di Gajayana. Ribuan suporter sudah datang menyambut punggawa Singo Edan ini dan menunggu sejak pukul 14.30. Meski kondisi itu wajar dalam pertandingan sesungguhnya, namun menjadi tidak wajar karena sore kemarin adalah pertandingan ujicoba dan lawannya pun dari amatir.

Di sudut stadion juga nampak beberapa Aremania yang membawa tetabuhan untuk kemudian dengan bersemangat bernyanyi mendukung Arema. "We Love You...", begitu petikan nyanyian Aremania yang memadati tribun ekonomi.


"Yo iki sam, Arema seng asli, Arema yang dekat dengan Aremania, Arema yang tidak banyak melakukan serangan, dan Arema yang pengurusnya damai" Kata Ari Aremania Bululawang. Bahkan Ari juga bercerita jika dirinya sempat menyaksikan perjuangan Ridhuan cs di Talok Turen kondisi disana juga serupa dengan di Gajayana.

Bahkan ada kejadian lucu dan unik. Banyak suporter yang tidak tahu jika sistem pertandingannya adalah 3x30 menit. Karena itu ketika peluit babak kedua dibunyikan, sontak ratusan suporter langsung turun ke lapangan untuk meminta pemain foto bersama dan memberikan tanda tangan. Bahkan sistem pengamanan dari klub sendiri sempat kewalahan mengatasi aksi Aremania ini.

Beruntung Aremania mau mengerti ketika dengan baik-baik Joko Susilo cs memberikan keterangan kepada suporter bahwa masih ada 30 menit lagi. Selain itu, teriakan suporter yang berada di tribun agar penonton yang di lapangan segera balik ke pinggir juga membuat mereka minggir. Meski tetap berada di pinggir lapangan alias tidak kembali ke tribun. Antusiasme yang luar biasa ini menimbulkan aura positif kepada pemain dan mereka tampil semangat.


Prestasi Arema yang jeblok di putaran pertama nampaknya tidak menjadi masalah bagi suporter, mereka nampak semangat dan yakin, beberapa pemain yang hadir di putaran kedua bakal membuat Arema bisa bangkit dan lolos dari degradasi.

Manajemen Arema melalui Sudarmaji mengapresiasikan antusiasme tinggi ini. "Saya bangga kepada Aremania, dan dukungan serta doa dari Aremania inilah yang membuat kami sangat bersemangat menyambut putaran kedua karena pemain akan meningkat mentalnya berkat dukungan ini" kata dia.
sumber:
READ MORE - Yo Iki Arema Seng Asli

Berjiwa Besar

Diposting oleh Summer Coffee on Sabtu, 07 April 2012


Jiwa yang besar adalah mereka yang berani bermimpi besar dan tidak takut untuk mewujudkannya.

Selama kita masih punya harapan dan cita-cita maka beranikanlah dirimu untuk mencobanya. Tak berarti mimpi besar harus mulai dari hal-hal yang berskala besar pula, tetapi mulailah dari hal kecil yang mungkin orang lainpun tidak dapat menduganya.

Kunci utamanya adalah jangan sesekali meragukan kemampuan dirimu sendiri, sebab itu akan menjadi modal utama dalam meraih semua mimpi besarmu.

Teruslah berusaha dan hindari putus asa, iringilah setiap langkahmu dengan selalu memohon pertolongan dan bimbingan dari Allah Yang Maha Kuasa. Karena Allah-lah tempat bersandar dan memohonkan segala keinginan. Tapi ingat, lakukanlah dahulu kewajibanmu kepada-Nya, sebelum meminta hak-hak jiwamu.

"SELAMA NAFAS MASIH BERHEMBUS,JANGAN BIARKAN DO'A KITA SAMPAI TERPUTUS"

#Tribute for Dulur Aremania, Ebes Indra Azwan.
Semoga keadilan segera menemuimu. Doa semua Aremania bersamamu.

Oleh:
READ MORE - Berjiwa Besar

Aremania, Kreatifitas Tiada Henti

Diposting oleh Summer Coffee on Kamis, 29 Maret 2012









READ MORE - Aremania, Kreatifitas Tiada Henti

Kami Bukan Penonton

Diposting oleh Summer Coffee


Di suatu malam seorang anak kecil bertanya kepada ayahnya, "Arema kalahan kok masih di tonton?" Si ayah tadi hanya terdiam dan melihat ku yang duduk di sebelahnya dengan senyum penuh arti. lalu hp-ku berdering, ada sms masuk, "Arema kalah lagi ya? kok masih di tonton?".

Dalam senyum aku membatin "Aku seorang SUPPORTER BUKAN PENONTON. Aku datang untuk mendukung BUKAN untuk MELIHAT, NILAI SEBUAH KEMENANGAN hanya HADIAH dari KEDATANGANKU".

AREMA yang ku kenal dan ku cintai BUKAN yang SERING MENANG, tapi yang mampu menyihir supporternya dengan SPIRIT yang tak kenal lelah di atas lapangan. Dan tidak senada dengan bapak walikota di kota-ku yang berkata "AREMA yang asli yang menangan". Yang aku ingin AREMA yang punya SPIRIT, karena PIALA HANYA SIMBOL. apalah arti PIALA jika TAK BISA MEMBANGGAKAN SUPORTERNYA....!!


Sebait kata diatas berarti banyak bagi kami, para Aremania. Karena KAMI AREMANIA. Kami hanya ingin melihat tim kesayangan kami tanpa beban dan bisa bermain baik. Kami tidak Mau munafik, kami juga rindu kemenangan. Tapi seperti kata pepatah; "Kemenangan Tanpa Perjuangan Adalah Kemenangan Tanpa Kebanggaan" Dan sepertinya kami sadar bahwa ada yang lebih penting daripada hanya sekedar memenangkan sebuah pertandingan, yaitu PERJUANGAN!

Kami, para Aremania/nita hanyalah penikmat tarianmu diatas lapangan. Kami tidak bisa membantumu menjaringkan bola ke jala lawan. Tapi doa kami takkan pernah berhenti mengalir untukmu, SINGO EDAN-ku.

Terus berjuang layaknya ksatria yang tak pernah menyerah di medan perang AREMA-ku. Kau tak harus punya belati untuk membuat lawanmu mati. Yang kau butuhkan hanya satu, SEMANGAT DAN TERUS BERJUANG TANPA HENTI.

Harapan kami banyak, mimpi kami untuk melihatmu menggenggam piala pun masih belum padam di ingatan kami. Tapi untuk saat ini mimpi kami hanya satu, MELIHAT KALIAN TERUS BERJUANG DEMI SATU NAMA AREMA!!!
READ MORE - Kami Bukan Penonton

Sudahkah Kalian Memenangkan Hati Mereka?

Diposting oleh Summer Coffee on Selasa, 20 Maret 2012


3584 penonton kala pertandingan Arema melawan PSAP yang menjadi rekor terendah suporter di Kanjuruhan ternyata sanggup dipecahkan oleh rekannya di liga lain yaitu Arema IPL vs Ayeyawady. Di laga Asia tersebut hanya disaksikan oleh 700an penonton. Bahkan jika ditengok di tribun utama, orang awam pasti mengira ada liga Tentara mengingat penontonnya adalah tentara semua di tribun itu.

Siapa sangka, jumlah dibawah seribu ini adalah pertama kali dalam sejarah Gajayana berdiri. Laga awal Arema di periode 1986 saja menurut perkiraan disaksikan oleh 5000 suporter. Bahkan ketika itu kondisi Gajayana masih berupa gundukan tanah.

Dari manajemen sendiri pun tidak ada yang bersedia dikomentari perihal sepinya Gajayana ini. Namun yang jelas sosok Arema Indonesia IPL sudah kehilangan dukungan dari sebagaian besar Aremania di Malang Raya.

Analisis asumsi berdasarkan fakta dilapangan mengindikasikan bahwa Aremania sudah bosan dengan konflik yang terjadi di dalam tubuh Arema IPL. Konflik yang dimulai dari pemecatan sepihak Milomir Seslija dengan alasan Milo tidak punya komitmen.

Padahal selama di latih Milo, progres Arema sangat bagus. "Kau jangan melihat tim ini sekarang, sebab saya baru memegangnya 23 hari. Tapi lihat tim ini 5 bulan ke depan. Karena tim ini akan berjalan semakin baik dimulai dari pertandingan pertama kompetisi hingga pertandingan terakhir" kata Milo pada bulan November lalu ketika Arema kalah melawan Persema 2-0 dalam ujicoba.

Dan benar saja, Milo nampaknya sudah mempersiapkan tim ini agar semakin kuat, terutama 5 bulan ke depan, karena 5 bulan di depan ada bulan Maret, yaitu Arema sedang mengalami jadwal padat di liga dan di AFC Cup.

Akibat terjadi friksi dengan manajemen. Prestasi Milo yang sudah membawa Arema menang selama 2 kali tidak berarti apa-apa, karena manajemen tiba-tibanya menggantinya dengan sosok Abdurrahman Gurning. Uniknya, surat pemecatan itu sendiri tidak ada, dan tiba-tiba sosok Milo dipinggirkan begitu saja. Sebuah tindakan yang memantik pemain-pemain yang selama ini dilatih Milo langsung melakukan pemberontakan.

Manajemen pun terlihat tidak punya kiat untuk mengatasi semua permasalahan ini, bahkan Aremania yang memberikan usul agar penyelesaian masalah dilakukan dengan damai dan mediasi dari kedua tim dengan memecat pelatih Gurning tidak dihiraukan. "Aremania sebaiknya diam saja, berdoa supaya tim ini kondusif, serahkan kepada kami, karena kami sebagai manajemen berusaha memulihkan kondisi tim" kata Winarso.

Tentu saja intrik-intrik itu tetap berkelanjutan, hingga akhirnya 7 pemain plus 3 mengundurkan diri dari tim Arema. "Saya hanya ingin bermain di tim yang nyaman mas, di tim yang suasananya kekeluargaan dan penuh semangat" kata salah satu dari 7 pemain itu.

Konflik ini sudah pasti dimenangkan oleh Ancora sebagai pengelola Arema IPL. Namun Ancora tidak berhasil memenangkan hati Aremania yang sekarang banyak yang berpaling ke tim Arema di Indonesian Super Liga. Sebagai contoh, laga melawan Persijap juga sepi penonton meskipun digratiskan.

"Saya tidak tahu kemana Aremania, karena sebagai Aremania mereka seharusnya mendukung Arema, padahal tiket sudah digratiskan" kata Fanda Soesilo usai Arema IPL melawan Persijap.

Kehilangan Momentum

Nampaknya Arema IPL sudah kehilangan momentum untuk menggaet penonton. Aremania sudah banyak pindah kepada tim yang dijujugi oleh para pemain yang dibuang. Tim itu tentu saja Arema ISL.

"Kami tidak ingin terseret ke pusaran konflik mereka (Arema IPL), ketika ada pemain datang kami terima dengan tangan terbuka, sebab kami memang membutuhkan pemain-pemain itu untuk mendongkrak permainan Arema di putaran kedua," Kata Sudarmaji media officer Arema.

Momentum IPL untuk memenangkan simpati juga sudah hilang ketika mereka tidak bisa bermain di kandang Persema dalam derby d'ngalam. Momentum Arema IPL juga hilang ketika membiarkan fantastic four (Along, Este, Ridhuan dan Roman) untuk hengkang dan menyisakan Roman, dan momentum Arema IPL hilang ketika pelatih Milomir Seslija digantung statusnya.

Jangan heran jika penonton di laga-laga Arema IPL mendatang bakal sepi karena mereka sudah kehilangan momentum untuk memenangkan hati Aremania.

Seorang kawan yang aktif di Kaskus pernah bilang, "Sepakbola adalah bisnis hiburan dan artis. Pemain adalah artisnya, jangan harap anda bisa memenangkan hati konsumen jika artismu tidak bagus. Di Indonesia suporter 'asli' tidak lebih dari 30%. Dan angka itulah yang datang memenuhi stadionmu jika kamu tidak punya artis bahkan bisa kurang. Kecuali jika anda tidak punya artis tapi tetap menangan"

Karena itu, sudahkah kalian memenangkan hati mereka sebagai pendukung?

sumber:
READ MORE - Sudahkah Kalian Memenangkan Hati Mereka?

Sepak Bola (Seharusnya) Bukan Perang

Diposting oleh Summer Coffee on Minggu, 18 Maret 2012


FANATISME suporter sepak bola di indonesia sudah di luar jangkauan akal sehat. Tindakan mereka untuk menunjukkan kecintaan terhadap klub kebanggaannya sudah tidak bisa lagi di nalar. Fanatisme berlebihan berdampak pada seringnya gesekan antar suporter dari klub yang berbeda.

Parahnya, gesekan yang sering berujung pada kerusuhan itu tidak hanya terjadi pada saat dua tim dengan pendukung yang saling bermusuhan bertemu dalam sebuah pertandingan. Bahkan, saat tidak ada pertandingan yang melibatkan keduanya, gesekan itu sangat mudah tersulut.

Yang paling sering terjadi adalah saat rombongan para suporter harus melewati wilayah suporter yang selama ini bermusuhan. Seperti yang terjadi kala rombongan suporter Persebaya dalam perjalanan menuju Kota Bojonegoro untuk mendukung Persebaya melawan Persibo.

Dari Surabaya, perjalanan menuju Bojonegoro harus melewati Lamongan, yang merupakan homebase LA Mania, pendukung fanatik persela lamongan. Kedua kelompok suporter tersebut dikenal bermusuhan. Meski tidak ada pertandingan persebaya melawan persela, tapi kerusuhan pun tak terhindarkan dan memakan korban jiwa. Dan ironisnya, hal seperti ini juga terjadi di wilayah-wilayah lain di negeri ini.

Konon, permainan sepak bola memang terinspirasi dari perang. Karena itulah kita sering mendengar istilah-istilah dalam sepak bola yang cenderung bernuansa perang. Misalnya, striker, offence, defence, daerah pertahanan, zona terlarang dan sebagainya. Juga penggunaan kata dibombardir, untuk menggambarkan pergerakan pemain dan serangan lawan yang berulang-ulang mendekati gawang.

Yang terjadi dilapangan saat ini semakin menguatkan hal itu. Para suporter seakan menguatkan kesan bahwa sepak bola adalah perang.

Contohnya seperti insiden di lamongan dan Kota-kota lain tersebut. Mereka mengklaim kota mereka adalah daerah terlarang bagi lawan. Meski sebenarnya lawan tidak berniat menyerang, sekedar lewat pun tidak boleh. Kalau memaksa lewat, harus siap dengan resiko “diserang” sebagai bentuk pertahanan atas wilayah yang biasa disebut sebagai “ini kandang kita”.

Munculnya kelompok suporter yang bersekutu, semakin memperkental aroma perang dalam sepak bola. Persis ketika dunia masih dalam suasana perang dingin. AS membentuk pakta pertahanan NATO bersama negara sekutunya. Sementara Uni Soviet membentuk pakta pertahanan yang dikenal dengan pakta warsawa-nya untuk memerangi NATO.

Sama halnya seperti apa yang kita lihat sekarang di lapangan, dengan para suporter bola di negeri ini. Di Jawa Timur di kenal permusuhan sengit antara Bonek dan Aremania, pendukung fanatik Arema malang (sekarang Arema Indonesia). Di sisi Barat Jawa, The Jak Mania berseteru dengan Viking, kelompok suporter Persib Bandung.
Bonek pun bersekutu dengan viking. Sementara Aremania bersekutu dengan The jakmania. Sangat mirip bukan dengan perseturuan NATO melawan pakta warsawa tadi.

Perang dingin antara AS dan Uni soviet makin menipis. Peran NATO dan pakta warsawa pun makin tidak terasakan. Meski belum sepenuhnya bisa dihilangkan, tapi kemungkinan terjadi perang fisik antara kedua belah pakta pertahanan tersebut sangat kecil.

So, mengapa para suporter negeri ini tidak mengaca pada situasi tersebut. Dan mengapa masih saja mengobarkan semangat perang pada persepakbolaan di negeri yang sudah carut-marut dan penuh masalah ini. Apalagi, di negara-negara yang persepakbolaannya makin maju, sepak bola sudah menjadi entertainment.

Sepak bola sudah menjadi industri. Nuansa perang pun nyaris tidak terasakan lagi. Kalaupun ada, bentuknya tidak lagi perang fisik. Namun, perang sponsor, perang bisnis, perang kreatifitas, dan perang-perang lainnya yang jauh dari kekerasan fisik.

Sementara disini, di negara yang mayoritas penduduknya menggilai bahkan menuhankan sepak bola, masih sulit menjadikan olah raga yang paling populer sebagai tontonan yang menarik. Apalagi, menjadikannya industri entertainment.

Bagaimana sepak bola menjadi menarik jika masih saja terkesan menakutkan?
Apakah “perang” itu yang menurut kalian lebih menarik? Entahlah...
READ MORE - Sepak Bola (Seharusnya) Bukan Perang

Gantung Politikus Sepak Bola Di Monas

Diposting oleh Summer Coffee on Jumat, 16 Maret 2012


''In Mexico an air conditioner is called a politician because it makes a lot of noise but doesn't work.'' (Di Meksiko, pendingin udara (ac) disebut politisi karena menghasilkan kegaduhan tetapi tidak berfungsi) *Len Deighton 1929*

Entah apa lagi hajat hidup di negeri ini yang tidak disentuh kalangan politik. Mulai dari persoalan sosial, ekonomi, hukum, dan agama sudah terjamah arus politisasi. Satu-satunya hiburan rakyat Indonesia, sepak bola, juga dijarah oleh kalangan poolitisi lapangan hijau.

Alih-alih menghasilkan prestasi, para poolitisi ini justru membuat sepak bola Indonesia tersudut oleh kegaduhan. Masyarakat yang jadi penonton pun akhirnya jadi korban. Bukannya disajikan pertarungan berkelas di lapangan, rakyat justru dibuat muak oleh pengurus sepak bola yang beradu sakti.

Lengkap sudahlah penderitaan masyarakat. Setelah kerap 'ditipu' setiap lima tahun sekali, kali ini para politisi kembali beraksi menjanjikan angin surga di sepak bola nasional. Para poolitisi berjanji, jika kelompoknya mampu bertahan atau menggulingkan PSSI, maka segudang jani akan teralisasi.

Janji bahwa kongres luar biasa KPSI akan perbaikan prestasi, ataupun Kongres PSSI akan menuju rekonsiliasi, adalah omong kosong. Bagaimana mau berprestasi, jika KPSI dihuni oleh pengurus yang kenyang kegagalan selama puluhan tahun. Di pihak lain, rekonsiliasi jadi sumir mengingat PSSI terus menerus menjatuhkan sanksi, bukan solusi

Kini kenyataan dua kongres yang sudah di depan mata membuktikan sepak bola Indonesia terpecah dalam dua kepentingan. Di satu sisi ada PSSI yang sekuat tenaga mempertahankan kursi kuasa. Di pihak lain, KPSI ngotot merancang aksi kudeta.

***

Manuver KPSI dan PSSI ini pun makin mengukuhkan bahwa keduanya memenang sebuah prinsip kerja politik yakni; "Politics is the art of looking for trouble, finding it whether it exists or not, diagnosing it incorrectly, and applying the wrong remedy." (Politik adalah seni mencari sebuah masalah, menemukannya secara benar atau salah, mendiagnosisnya secara keliru, dan memberikan resep obat yang salah) *Earnest Benn*

Walhasil, publik sepak bola tinggal menunggu godot reaksi Federasi sepak bola dunia FIFA. Ancaman sanksi pun mengemuka bagi persepakbolaan Indonesia.

Jika kemungkinan terburuk sanksi FIFA menimpa Indonesia, bisa jadi ada berkah yang terbunyi bagi dunia sepak bola. Inilah saatnya bagi pemerintah untuk membersihkan sepak bola nasional dari tangan orang yang tidak bertanggungjawab. Singkirkan para loyalis politik sepak bola yang sudah terjerat dalam pusaran kepentingan pengusaha A atau Si B.

Karena sepak boka bukan hanya milik si pengusaha, pengurus, apalagi poolitisi sepak bola, namun seluruh masyarakat Indonesia. Pemerintah juga sehendaknya bisa mengambil ancang-ancang untuk mengaudit seluruh transaksi keuangan baik di PSSI dan pengelola kompetisi. Inilah kesempatan untuk membumi hanguskan parasit di sepak bola Indonesia via jalur hukum.

Pada akhirnya, kita tentu berharap, tidak ada sanksi FIFA bagi persepakbolaaan Indonesia. Tentunya 240 juta rakyat Indonesia tidak akan rela jika ulah para politisi sepak bola pada akhirnya harus mengorbankan seluruh bangsa Indonesia.

Masyarakat akan lebih senang jika para politisi sepak bola yang terbukti mengotori lapangan sepak bola "diseret" untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Kalau perlu para politisi sepak bola itu mengikuti ucapan seorang politisi sungguhan yang rela digantung di Monas.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Abdullah Sammy/Wartawan Olahraga Republika
Twitter: @Abdullah_Sammy
READ MORE - Gantung Politikus Sepak Bola Di Monas